SEKILAS TENTANG PEMBELAJARAN DARING

SEKILAS TENTANG PEMBELAJARAN DARING

by Admin User -
Number of replies: 0

Mumpung suasana hati sedang bersemangat untuk Pembelajaran Daring, pada kesempatan ini saya mencoba menulis sekilas overview tentang elearning yang saya pahami dari berbagai sumber. Pembelajaran daring atau online yang biasa dsebut elearning adalah pembelajaran yang berbasiskan atau berbantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Awalnya elearning hadir sebagai alat pembelajaran orang dewasa. Membelajarkan mahasiswa sudah dikategorikan membelajarkan orang dewasa,  sehingga dalam pembuatan elearning untuk mahasiswa  perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah karakter belajar orang dewasa dan gaya belajar.

Hal pertama yang menjadi perhatian adalah karakter belajar orang dewasa. Pemahaman terhadap karakter ini sangatlah penting karena orang dewasa sudah punya karakter yang  terbentuk karena proses belajar sebelumnya atau pengalaman kehidupan. Orang dewasa dapat belajar pada kondisi terbaik apabila terpenuhi beberapa hal penting, yaitu pembelajaran dapat dipraktekkan sendiri, masuk akal, berguna untuk kehidupan sendiri maupun profesional, dan mereka belajar ketika punya waktu. Selain itu orang dewasa belajar secara efektif jika pengajar memperlakukan mereka sebagai teman atau kolega. Orang dewasa belajar ketika mereka siap, dan kesiapan itu terjadi ketika orang dewasa mempunyai motivasi internal maupun eksternal untuk mempelajari sesuatu.

Hal penting kedua pada pembuatan elearning adalah memperhatikan gaya belajar mahasiswa. Setiap mahasiswa punya belajar yang berbeda beda (unik). Ada mahasiswa yang suka belajar sendiri, ada juga yang suka berkelompok, belajar sambil bermain, lebih suka pakai visual, dan sebagainya. Dengan demikian elearning harus mengakomodir karakter dan gaya belajar mahasiswa, misalnya dengan menyediakan kotent dalam bentuk teks, gambar, video, filem, simulasi, dan animasi.

Dalam elearning dosen harus memahami fungsinya dan beberapa konsep penting. Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, dosen pada elearning berfungsi sebagai fasilitator pembuat dan pencari konten pembelajaran yang diperlukan oleh mahasiswa. Untuk membuat evaluasi pembelajaran, dosen dapat mengadopsi taksonomi Bloom, dimana soal dibuat secara berjenjang dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Agar media pada elearning memudahkan orang dalam belajar maka perlu mengaplikasikan cara mengembangan media pembelajaran berbasiskan prinsip pengembangan mutimedia, misalnya seperti yang disampaikan oleh Richard Meyer.

Dalam pembelajaran dengan cara tatap muka, salah satu permasahan yang dihadapi dosen adalah rendahnya partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan. Mahasiswa tidak mau berpendapat, bertanya atau berinteraksi dengan dosen. Tetapi fakta membuktikan bahwa salah satu kelebihan elearning adalah mampu mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi aktif dalam forum diskusi atau chat walaupun mahasiswa  tersebut yang pendiam dalam kelas tatap muka.

Banyak yang beranggapan bahwa membuat dan mengelola elearning adalah susah dan merepotkan. Pernyataan ini benar ketika semua pekerjaan dilakukan sendiri oleh dosen. Agar mudah menyelenggarakan elearning maka diperlukan: 1) tim elearning seperti manejer proyek, tekhnisi, pengembang elearning, narator, pengembang konten, 2) tim perancang pembelajaran untuk menyusun model yang cocok untuk mengantarkan suatu topik , 3) tim desain komunikasi visual.

Pada saat membuat desain pembelajaran, desainer dapat merancang elearning synchronous atau a synchronous. Pertimbangannya adalah apakah mahasiswa dapat hadir dalam waktu yang bersamaan. Apakah mahasiswa sudah mempunyai self character learning. Pada intinya desain pembelajaran yang dibuat harus disesuai dengan dengan karakter mahasiswa.

 

Ketika sudah punyai desain course, kita lebih baik memilih Learning Management System (LMS ) karena telah dibuat berdasarkan pengalaman para ahli dalam mengelola elearning. Pada LMS sudah tersedia fitur fitur yang membantu mahasiwa dan dosen dalam proses pemebelajaran. Dengan LMS, mahasiswa dapat memahami materi bantuan (informasi) dari teman temannya, dan adanya fleksibilitas untuk belajar dimana saja dan kapan saja. Yang paling penting, LMS menyimpan log-log kegiatan mahasiwa yang dapat dievaluasi oleh dosen. Salah satu LMS yang bereputasi adalah Moodle yang telah digunakan oleh banyak perguruan tinggi karena gratis dan mudah dikustomisasi sesuai keperluan. Moodle telah memperhatikan aspek aksesibilitas dan kemamanan yang baik.

Dalam pembelajaran daring secara synchronous, hal  penting yang perlu diperhatikan adalah perencanaan yang baik dan  penyiapan berbagai sumber/media belajar, seperti video atau gambar dan link media sebelum pembelajaran dimulai. Agar tidak menguras paket data, maka berbagai media tersebut dapat disimpan di drive. Ceramah tidak lagi populer untuk diterapkan, maka sebaiknya gunakan model problem based learning sebagai salah satu opsi model pembelajaran, terapkan pemberian tugas yang otentik dan realistik, serta fokuskan pembelajaran pada pembentukan pengetahuan yang strateginya bekerja dalam kelompok. Kesemua model, strategi dan metode ini sesuai dengan paradigma pembelajaran abad 21.

Salah satu permasalahan yang mungkin ditemukan adalah waktu yang banyak yang harus dialokasikan oleh dosen pada  forum diskusi , karena mungkin akan banyak pertanyaan dari mahasiswa.  Untuk mengatasinya perlu mensiasati dengan pembatasan waktu atau hanya menyediakan waktu diskusi pada waktu tertentu saja, misal di sore hari atau akhir pekan. Tidak meladeni pertanyaan mahasiswa pada forum bukanlah ide yang baik. Sebab, mahasiwa akan enggan bertanya pada masa mendatang dan  mahasiswa akan meninggalkan forum diskusi elearning. Setiap diskusi akan punya karakteristik yang berbeda-beda. Keahlian untuk mensiasati ini akan terbentuk sendirinya ketika dosen sudah aktif menggunakan elearning.

Apapun ceritanya, Universitas Jambi sudah saatnya melirik elearning secara lebih intens mulai dari kebijakan, perangkat pendukung, pembenahan LMS,  dan segera memulai menggunakannya dalam perkuliahan.

 

Salam

Jefri Marzal

Ketua LPTIK  dan Dosen Sistem Informasi FST Universitas Jambi